Berawal dari Bangkrut, Wanita ini Sukses Bisnis Jualan Mendoan

  • Berawal dari Bangkrut, Wanita ini Sukses Bisnis Jualan Mendoan

Bangkrut tidak menjadikan Ny. Ledjar Astuti  dan suaminya, Achmad Kuswanda putus asa.  Justru pernah bangkrut saat bisnis tembakau di Tasikmalaya pada tahun 1980-an, akhirnya  mereka berdua kini sukses mengelola usaha Toko oleh-oleh khas Purwokerto “Eco 21” di Jl. Sutoyo 21 Purwokerto (Jateng).


“Kami pernah bangkrut total  ketika bisnis tembakau. Akhirnya kami pulang kampung ke orang tua kami di Purwokerto, hanya membawa satu tas koper berisi pakaian. Modal pun kami tak punya sama  sekali saat itu,” ujar  Ny. Ledjar Astuti  (58)  yang akrab dipanggil Ny. Tuti di tempat usahanya, Toko “Eco 21” di daerah Sawangan atau Jl. Sutoyo 21 Purwokerto, Senin (29/10/2012).    

Di Purwokerto, Ny. Tuti bersama suaminya awalnya meneruskan usaha sepatu  yang dirintis Waluyo. Namun lambat laun, hal itu dirasakannya tidak cocok. Sampai akhirnya, terbersit di pemikiran Achmad Kuswanda untuk jualan oleh-oleh khas Purwokerto, kripik dan mendoan. Sebagai istri, Ny. Tuti pun mendukung penuh usaha suaminya itu.

Sesuai nama tempatnya yang berada di Jl. Sutoyo 21 Purwokerto,  Telp; (0281) 632824, maka tempat usaha jualan kripik dan mendoan itu di beri nama "Eco 21". Eco berarti enak. Bisa diartikan, kripik dan mendoan enak dari Jalan Sutoyo 21 Purwokerto.

"Setelah berembug dengan keluarga, kakak dan adik-adik saya, akhirnya tempat ini disulap menjadi toko oleh-oleh Eco 21. Saya   mengawali usaha jualan kripik dan mendoan ini pada awal tahun 1991," ujar Ny. Tuti yang didampingi penasehat manajemen, Ir Wahyu Agung Widodo .

Ny. Tuti kini tinggal menikmati hasil kerja keras yang dirintis bersama suaminya, Achmad Kuswanda, yang meninggal tahun 2010. Dan Toko "Eco 21" , kini menjadi jujugan warga Purwokerto dan sekitarnya, atau warga luar kota yang sedang berada di Purwokerto untuk memborong makanan khas kota Purwokerto, kripik dan mendoan.

Ya, belum lengkap rasanya, jika ke Purwokerto, belum mencicipi atau membeli kripik dan mendoan. Dari ratusan toko kripik dan menhoan yang banyak dijumpai di sudut-sudut Kota Purwokerto,Toko Eco 21 boleh dibilang yang paling laris. Pada setiap akhir pekan, atau di hari ramai, seperti libur lebaran, natal, tahun baru, libur anak sekolah atau tanggal merah, Ny. Tuti harus menambah stok dagangannya.

"Jika hari biasa, rata-rata saya mampu menjual 700 bungkus tempe mendoan. Namun pada hari ramai, bisa naik hingga tiga kali lipatnya. Demikian juga untuk kripik," ujar Ny. Tuti yang memiliki karyawan 21 orang ini.

Bagi pembeli yang ingin menikmati mendoan sambil minum kopi atau teh yang diracik khusus, di toko itu ada cafee mungil. Satu lembar mendoan yang terasa nikmat  jika dimakan saat masih hangat, Rp 2500,-.

"Bagi pembeli yang akan membeli mendoan untuk dibawa pulang, kami melayani yang baru digoreng dan  mentah. Khusus yang tempe mendoan mentah , dalam satu paket haranya Rp 28 ribu, berisi 10 tempe mendoan mentah, 1/2 kg tepung mendoan yang sudah diracik khusus, dan sebotol kecap pedas," ujar Ny. Tuti, ibu beranak tiga dan satu cucu ini.Ny. Tuti juga menjual tepung khusus mendoan, dengan harga 1/2 kg Rp 11 ribu.

Untuk kripik, lanjut Ny. Tuti, dijual dengan aneka variasi  harga, ada Rp 9.000, Rp 14.000,- , Rp 16.000 tergantung jumlah kripik, hingga Rp 25 ribu dalam kemasan toples.

Ny. Tuti menjelaskan, untuk menjaga kualitas, pihaknya membuat mendoan maupun kripik dengan bahan yang berkualitas pula. Yakni dari kedelai atau tanpa  campuran, menggunakan bawang kathing (bukan bawang bombay), dan digoreng dengan minyak goreng Barco. "Saya tidak main-main soal rasa. Kepuasan konsumen adalah segalanya. Sebab itu, saya menggunakan bahan-bahan berkualitas, agar konsumen puas," ujar Ny. Tuti.

Saat ini, selain menjual kripik dan mendoan, Ny. Tuti juga menjual makanan khas Banyumas lainnya, seperti gethuk goreng, lanthing, nopia, dan aneka makanan kecil lainnya.

Sumber : http://city.seruu.com/


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar