Bakso Mejeng, Bertahan Berkat Kualitas

  • Bakso Mejeng, Bertahan Berkat Kualitas

Bakso adalah makanan berupa bola daging. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi dan tepung, tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Bagi pecinta bakso, rasanya belumlah lengkap jika belum mencicipi Bakso Mejeng di Jalan Anggrek I/16, Semarang, Jawa Tengah.

Kuahnya yang bening sangat sedap untuk disantap. Belum lagi pangsit goreng, bakso sapi, bakso goreng, dan siomay yang tersaji dalam mangkuk besar. Untuk penikmat bakso yang takut terkena kolesterol, janganlah khawatir. Sebab, bakso yang berdiri sejak 27 tahun lalu itu, tidak menyajikan babat dan iso. Selain bakso, tersedia pula mi ayam yang diproduksi sendiri.

”Selama ini mi dan bakso diolah sendiri, sehingga ada rasa khas dari bakso dan mi yang kami tawarkan,” ungkap Roedi Iskandar, pemilik Bakso Mejeng.

Dalam meracik bakso, dia memilih daging sapi yang berkualitas. Bahkan, sama sekali tanpa pengawet dan campuran daging lainnya. Satu mangkuknya dijual Rp 16.000. Setiap hari, rata-rata terjual 100 mangkuk-150 mangkuk. Menurut Roedi, bakso merupakan salah satu santapan nusantara yang banyak digemari.

Namun, di tengah harga daging sapi yang mahal, dia mengaku sulit untuk mempertahankan harga. Pria kelahiran Lasem, 7 Desember 1943, itu terpaksa tidak menaikkan harga, karena takut kehilangan pelanggan.

Roedi berupaya melakukan penghematan bumbu dan tidak berlebihan. Asalkan cita rasa masih sama dengan sebelumnya. Selama ini, dia mengambil daging sapi dari kawasan Kabluk dengan harga per kilogramnya Rp 87.000 dari sebelumnya Rp 64.000 per kilogram. Setiap hari, Roedi mengambil sekitar 4 kilogram untuk diolah menjadi bulatan bakso.

Dalam menjajakan bakso, Roedi selalu menjaga kualitas dengan bahan baku terbaik. Ketika mengolah bakso dan mie, pria yang membuka bakso sejak pukul 06.30-21.30, itu tidak menggunakan tepung terigu sembarangan.

”Kami selalu menggunakan bahan baku berkualitas. Sebab itu, saya sangat miris ketika ada pedagang bakso yang mencampur daging sapi dengan daging babi,” katanya seperti dilansir dari Harian Suara Merdeka.  

Membuka usaha bakso sejak 27 tahun silam jelas bukanlah perkara mudah. Roedi selalu menekankan pentingnya pelayanan kepada konsumen. Baginya pelanggan adalah raja. Kini, usaha baksonya semakin berkembang.

Selain menjajakan bakso, dia juga menjual aneka makanan nusantara, sayur, dan lauk pauknya.


Sumber : ayopreneur.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar