Angkat Kudapan Tradisional yang Hampir Tersingkirkan

  • Angkat Kudapan Tradisional yang Hampir Tersingkirkan

Mengawali kegagalan bertubi-tubi di bisnis jasa desain dan penyewaan lighting tak mampu menghalangi semangat Ulul Azmi (24) untuk kembali bangun merintis usaha. Tepat pada tanggal 18 Agustus 2015, pengusaha muda ini nekat banting stir menjual ketan susu khas Pontianak yang citarasanya mulai dilupakan masyarakat setempat.

Di awal karir merintis usaha, pemuda yang akrab dipanggil Azmi ini menjual kudapan pulut (ketan) melalui media online. Bisnis makanan tersebut ia beri nama Ketan Susu pontianak.  “Awalnya dijual secara online hingga Desember 2015 kemarin.  Dan sejak Januari 2016, Ketan Susu Pontianak telah mempunyai gerobak dan menetap berjualan di area halaman Warkop Kopipedia di Jl. KH. Ahmad Dahlan, Pontianak,” terang Azmi.

Membuka gerai ketan susu dari jam 15.00-22.00, dulunya sebelum mencoba peruntungan di bisnis kuliner tradisional ini Azmi pernah mencoba berbagai macam usaha di bidang lain. Sebut saja seperti bisnis jasa desain, fotografi, dan terakhir membuka jasa penyewaan lighting yang semuanya harus berakhir di tengah jalan.

Ciptakan Ketan Susu dengan Variasi Toping

Ketika ditanya alasan memilih berjualan ketan susu, ia berujar karena saat itu yang berjualan ketan susu masih langka di Pontianak. “Saya melihat, hampir semua penjual di Pontianak menjual ketan dengan kuah santan,” ujar Azmi.

Selain mengganti santan dengan susu, Azmi juga menciptakan produk ketan susu dengan berbagai macam pilihan rasa, seperti ketan susu original, susu coklat, susu keju, susu kelapa, susu coklat keju, susu durian, susu nangka, susu durian keju, susu keju silverqueen, ketan serundeng (kelapa yang digonseng), dan ketan abon sapi.

“Kalau di Jawa, rata-rata serundengnya manis karena menggunakan campuran gula merah, sedang kami serundengnya asin,” ujar lulusan IAIN Pontianak ini.

Selain aneka ketan susu, ia juga menjual makanan tradisional Pontianak berupa tapai menaon dan tapai menaon spesial dengan toping berupa keju dan kacang tanah. “Tapai menaon merupakan pulut hitam yang difermentasi dan rasanya sangat manis. Biasanya, menjadi hidangan di rumah Suku Melayu Pontianak saat Hari Raya Idul Fitri. Namun saat ini, hidangan tradisional itu sudah mulai ditinggalkan,” tambahnya.

Dengan harga jual mulai dari Rp 9.000 hingga Rp 17.000, Omzet per bulan yang mampu dihasilkan Azmi sebesar Rp 5 juta – Rp 7 juta. Dibantu dua orang karyawan yang semuanya pria, setiap harinya Azmi mengandalkan ketan putih yang gurih dengan tambahan susu dan dikreasikan dengan berbagai macam toping yang menambah kenikmatan rasanya.

“Selain itu, Ketan Susu Pontianak juga unggul dalam melayani pesan antar untuk wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya,” jelas Azmi.

Sejauh ini, para pembeli produk Ketan Susu Pontianak sebagian besar merupakan konsumen lokal dari remaja hingga dewasa, dan juga kadang menerima pesanan untuk acara dan kegiatan rumahan, kantor, serta acara sekolah.

Ke depan, kami ingin Ketan Susu Pontianak lebih berkembang lagi dengan inovasi dan kreasi produk ketannya, serta bisa melakukan penambahan cabang. Jika memungkinkan, ke depan kami akan menggunakan kios permanen, bukan gerobak seperti saat ini,” kata Azmi.




Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar