ANAK MUDA INI IKUT MENJAGA BUDAYA LEWAT BISNIS SOUVENIR KHAS BETAWI

  • ANAK MUDA INI IKUT MENJAGA BUDAYA LEWAT BISNIS SOUVENIR KHAS BETAWI

Anak muda biasanya identik dengan bisnis kaos distro dan kuliner kekinian. Tapi, tidak dengan Muhammad Ardiansyah dan Rian Ardiansyah. Kedua saudara sepupu ini sejak kecil mencintai budaya Betawi. Kecintaannya kepada budaya leluhur membuatnya bertekad melestarikan budaya Betawi lewat bisnis souvenir khas Betawi.

Usaha yang cukup prospektif ini mereka buka sejak 2014 lalu seiring makin menjamurnya bisnis dengan mengandalkan media daring (online). Dengan modal keuangan yang ada, Muhammad Ardiansyah yang juga cukup mumpuni di bidang teknologi informasi mulai mengumpulkan semua hal tentang budaya Betawi. Setelah yang terkumpul dirasa cukup memadai, ia pun mulai membuat website.

Di website yang telah dibuatnya, ia langsung memasarkan produk souvenir Betawi yang disuplai dari perajin. Tak disangka sambutan  konsumen cukup menggembirakan. Ia pun makin semangat, terlebih niatnya cukup mulia yakni mencintai budaya sekaligus membantu menjualkan produk perajin agar usahanya tetap eksis.

Selain memanfaatkan website, ia juga memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai tempat promosi kepada khalayak. Upayanya ini membuat usahanya makin dikenal hingga pundi-pundi keuangannya semakin terkumpul.

Dengan modal yang ada, Muhammad Ardiansyah memberanikan diri membuka toko konvensional di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tak disangka sambutan masyarakat cukup antusias dengan produk-produk yang dijualnya. Apalagi harganya pun cukup terjangkau. Untuk gantungan kunci Monas dijualnya hanya Rp 7.000, gantungan kunci ondel-ondel Rp 10.000, boneka palang pintu Rp 35.000, miniatur pedagang kerak telor dan miniatur pedagang es selendang mayang dijualnya hanya Rp 45.000.  Sedangkan kaos dijualnya Rp 85.000. Untuk menjaga barang dagangan itu, dipercayakan kepada saudara-saudaranya termasuk di antaranya Rian Ardiansyah, yang tak lain sepupunya sendiri.

“Kalau barang bukan buatan kita, tapi disuplai oleh perajin. Ada juga yang kita beli dari sejumlah daerah seperti teko dan cangkir kaleng khas zaman dulu. Itu kita beli dari Surabaya,” ujar Rian, yang masih kuliah semester tiga di salah satu universitas swasta di Jakarta Selatan.

Event Bazar Ikut Dongkrak Pendapatan

Bisnis yang semula kecil kini mulai merangkak maju. Bahkan, omzet toko yang mereka kelola sudah mencapai Rp 20 juta sebulan. Padahal, meski dekat area masuk Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, tokonya dinilai kurang ramai, karena lokasinya berada dekat pemukiman warga. Sebab, keramaian pengunjung Setu Babakan justru biasanya ada di dekat danau dan Zona A yang memang kerap menampilkan aneka pertunjukan budaya Betawi.

Namun, mereka tak patah semangat. Bahkan, mereka aktif menjemput konsumen dengan ikut bazar jika ada acara di Blok A Setu Babakan. Bazar tersebut diakuinya cukup efektif mendongkrak penjualan. Bazar-bazar di event pemerintahan juga jadi sarananya menggaet pelanggan baru. Untuk bazar setengah hari saja, biasanya mereka bisa dapat uang hingga Rp 700 ribu. Sedangkan untuk bazaar besar selama dua hari penuh, mereka bisa dapat Rp 15 juta.

“Sudah dua tahun terakhir kita juga buka stand di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Lumayan omzetnya. Tapi, ada juga kendalanya. Kalau hujan pengunjung agak berkurang,” jelasnya.

Obsesi Buka Toko di Tempat Lain

Penghasilan yang didapat dari menjual souvenir biasanya diputar lagi untuk modal. Termasuk juga untuk biaya sewa tempat seharga Rp 8 juta setahun. Rian berharap usaha milik sepupunya semakin maju, sehingga bisa punya tempat sendiri dan membuka cabang di tempat lain.

“Obsesinya sih buka cabang di tempat lain. Kalau bisa lebih strategis sehingga pengunjungnya lebih ramai,” harapnya.

Selain menjual aneka souvenir khas Betawi, usaha yang mereka kelola juga menyediakan jasa sewa ondel-ondel besar yang biasanya dijadikan pajangan penyambut tamu di tempat resepsi. Biaya sewanya pun cukup murah, sepasang ondel-ondel hanya dihargai Rp 1 1/5 juta. Sedangkan jika untuk arak-arakan pengantin nikah maupun pengantin sunat dihargai Rp 3 juta. Harga sebesar itu sudah termasuk pemain dan musik pengiring.

Sementara untuk kesenian palang pintu harga jasa yang ditawarkan hanya Rp 1 juta. Jumlah sebesar itu juga sudah termasuk dua pemain yang menunjukkan keahlian bela diri silat dan saling berbalas pantun dengan durasi penampilan sekitar satu jam.

“Biasanya yang ngundang dari Jabodetabek. Kita juga menyediakan jasa penari yang bisa menarikan aneka tari-tarian khas Betawi, Kalau untuk tari-tarian harganya bisa nego,” tandasnya.




Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar