50% Orang Indonesia Ingin Jadi Entrepreneur

  • 50% Orang Indonesia Ingin Jadi Entrepreneur

Indeks ini dijadikan tolok ukur untuk memahami bagaimana masyarakat melihat peluang di masa depan dan juga hambatan-hambatan dalam meraihnya. Riset ini melibatkan 11.000 responden dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik yaitu Indonesia, Australia, China, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Data LinkedIn Opportunity Index mengungkap bahwa Indonesia menjadi negara yang paling percaya diri dalam menatap masa depan. Hal ini didorong oleh rasa percaya diri masyarakat Indonesia terhadap potensi pertumbuhan ekonomi negara. Ditambah juga kondisi yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan akses dan juga mengejar berbagai peluang yang  dianggap penting.

Kondisi ini bertolak belakang dengan negara-negara maju seperti Jepang, Hong Kong, dan Australia. Masyarakat di ketiga negara tersebut menunjukan kecemasan yang lebih tinggi terhadap kondisi perekonomian negara masing-masing, dan secara umum lebih mengelola ekspektasi mereka terhadap akses untuk meraih peluang yang relevan.

Olivier Legrand, Managing Director, LinkedIn Asia Pacific, mengatakan pihaknya percaya bahwa akses menuju, serta untuk meraih, peluang seharusnya universal dan dapat diakses oleh siapapun.

“Melalui studi perdana LinkedIn Opportunity Index, kami berusaha memahami aspirasi masyarakat di kawasan Asia Pasifik, tentang kesempatan dalam meraih berbagai peluang di masa depan, dan juga hambatannya,” ujarnya.

Menurut Legrand, pertumbuhan jumlah tenaga kerja di Asia Pasifik sejatinya bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional, jika dikelola secara efektif.

“Dengan memetakan serta memahami persepsi dan aspirasi masyarakat terhadap peluang di masa depan dan juga hambatannya, seiring waktu, kami berharap dapat memfasilitasi penawaran dan permintaan peluang yang lebih seimbang di pasar,” imbuhnya.

Merintis bisnis sendiri jadi aspirasi terbesar masyarakat Indonesia 

Ketika mendefinisikan arti peluang, di Indonesia juga berarti lebih dari sekedar karier. Setengah (50 persen) dari responden di Indonesia menyatakan bahwa “merintis bisnis milik sendiri” sebagai aspirasi tertinggi dari peluang di masa depan.

Ini senada dengan dengan responden dari Filipina (53 persen) yang tertarik untuk berwiraswasta. Sebaliknya responden di Australia (13 persen), Hong Kong (13 persen), dan Jepang (7 persen) memiliki keinginan yang kecil untuk memulai bisnis baru.

Selain itu, di Indonesia sebanyak 38 persen responden mengatakan bahwa peluang untuk bisa menggunakan kemampuan mereka sebagai aspirasi mereka tertinggi setelah peluang merintis bisnis milik sendiri.

Kondisi ini tidak mencerminkan aspirasi responden lainnya di tingkat regional. Di mana peluang untuk menjaga keseimbangan kehidupan karier dan personal menjadi aspirasi tertinggi bagi rata-rata responden di Asia Pasifik. Sedangkan di Indonesia hanya dinyatakan oleh 34 persen responden.

Peluang juga tidak semata diartikan sebagai usaha personal dalam meraih kesempatan kerja. Lebih dari itu, 82 persen orang Indonesia menyatakan bahwa mereka juga turut membantu orang lain untuk terhubung dengan kesempatan kerja yang lebih baik.

Di antara mereka, lebih dari setengah (sebanyak 56 persen) menyatakan bahwa mereka membantu memperkenalkan kerabat mereka ke orang yang tepat. Hal itu agar bisa meraih kesempatan kerja. Sementara 47 persen menyatakan bahwa mereka telah menuliskan surat referensi kerja bagi kerabat mereka.

Data ini merefleksikan kultur gotong royong yang telah melekat di masyarakat Indonesia. Hal itu terutama dalam mencapai suatu tujuan, dan juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam membantu orang Indonesia untuk terhubung serta meraih kesempatan di masa depan.

Responden di Indonesia menyatakan  status finansial sebagai halangan terbesar dalam menggapai peluang

Sama seperti responden lainnya di regional, sebanyak 35 persen dari responden di Indonesia percaya bahwa keterbatasan finansial menjadi halangan terbesar dalam meraih peluang di masa depan.

Sebanyak 29 persen responden di Indonesia juga menyatakan bahwa kurangnya luasnya koneksi dan jaringan relasi menjadi hambatan terbesar kedua, diikuti oleh rasa takut akan kegagalan (22 persen).

Indonesia percaya  ketekunan jadi pendorong kemajuan hidup di masa depan

Sama seperti lebih dari 90 persen responden di Asia Pasifik. Sebanyak 94 persen responden di Indonesia percaya bahwa ketekunan dan kerja keras menjadi kunci untuk memajukan hidup di masa depan.

Atribut lainnya yang dianggap orang-orang Indonesia penting dalam hal ini adalah adalah kesediaan untuk menerima perubahan (93 persen). Kemudian mengenal orang atau memiliki koneksi yang tepat (89 persen), dan tingkat pendidikan (84 persen).

Legrand menjelaskan, hambatan-hambatan yang dikemukakan dalam hal mengejar peluang hidup memang nyata terjadi. Menurutnya, meskipun kawasan ini menunjukan keberagamannya keberagaman. Namun jika masyarakat menelisik lebih dalam terdapat lebih banyak kesamaan ketika berbicara tentang aspirasi dan harapan.

“Kabar baiknya, apapun arti dari peluang bagi masing-masing, kita selalu dapat menemukan komunitas yang bisa membantu kita. Baik itu untuk mempelajari keahlian baru, menjalin relasi, berbagi ilmu/pandangan. Kita dapat saling membantu membuka peluang bagi semua, untuk terhubung dan meraih peluang,” imbuh Legrand.

sumber: https://www.cekaja.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar